Sunday, February 10, 2013

Welcome to Sikakap


Teluk Bungus, Padang
Selasa (30 Oktober 2012) kami melakukan penyebrangan Padang – Sikakap dari Pelabuhan Bungus, Teluk Bayur, Padang.  Perjalanan direncanakan akan menghabiskan waktu 12 jam di lautan, menyeberangi Selat Mentawai.  Harga tiket Bisnis Dewasa adalah 128 ribu rupiah, sudah termasuk asuransi.  Kalau ekonomi dewasa berapa yaa, hmm, sekitar 90an ribu rupiah gitu.  Kami sampai di Pelabuhan Bungus sekitar pukul 15.30 sore.  Ditemani oleh Pak Nasmul dan Pak Mulfit dari Dinkes Provinsi Sumbar karena ini pengalaman pertama bagi kami “melaut” ke Mentawai.

di Dek KMP Tanjung Burang
KMP Tanjung Burang berangkat pada pukul 17.30 menuju Pelabuhan Sikakap, Pulau Pagai Utara, Mentawai.  Di kabin VIP, tidak terlalu terasa pergerakan kapalnya.  Tetapi di bagian dek kapal, rasanya begitu nyata.  Naik-turun akibat menerjang ombak dan gelombang Selat Mentawai sangat terasa.  Belum lagi ditambah hujan gerimis yang turun saat itu. Hehe.  Tapi lama-lama aku kedinginan sih kena angin laut, makanya turun lagi ke kabin VIP.  Ada tivinya juga disitu, tapi kadang nyala kadang engga karena pengaruh dari sinyal.  Sinyal hape juga hilang saat di lautan.  Akhirnya setelah solat dan makan (yang sudah kami beli sebelum naik kapal), sekitar jam 7 malam mulai tidur.  Mencoba posisi yang pas agar badan ini tak terlalu terlipat-lipat sehingga kami bisa tidur nyenyak.  Semalaman aku beberapa kali terbangun karena naik-turun rasanya kapal ini, sehingga badanku juga ikut naik-turun. 

"berjuang" untuk tidur di Kabin VIP XD
Alhamdulillah.. Rabu, 31 Oktober 2012 pukul 6.30 kami tiba di Pelabuhan Sikakap, Mentawai.  Itu berarti membutuhkan 13 jam di lautan.

Daratan Sikakap sudah terlihat :)
Kami dijemput oleh Mobil Ambulance :D karena barang-barang kami yang sangat banyak itu.  Saat mengangkat-angkat koper dan barang itu, aku memperhatikan suasana sekeliling.  Pelabuhan Sikakap di pagi hari pasca datangnya kapal.  Banyak orang berlalu-lalang menjemput keluarganya.  Banyak juga yang mungkin sengaja ke Padang untuk “kulakan” (apa ini bahasa indonesianya ya -_-a) barang dan akan dijual lagi di Sikakap.  Itu yang membuat harga bahan makanan dan barang-barang di Sikakap menjadi lebih mahal.  Setelah itu kami berlima dibawa ke Wisma Lestari, tempat menginap kami sementara selama beberapa hari karena kami belum mendapat rumah kontrakan yang bisa ditempati.  Rumah Dinas Puskesmas pun sudah habis terhuni.  Kami disambut oleh Ka Erika, Kepala TU Puskesmas Sikakap yang juga tinggal bersebelahan dengan Wisma Lestari.  Setelah nego harga dengan saudara dari Bu Rika, kami akan tinggal sekitar 2 minggu di penginapan ini.

Wisma Lestari sangat dekat dengan Pasar Sikakap.  Jarak antara Pelabuhan Sikakap dan Pasar Sikakap relatif dekat.  Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.  Yang membuatku bahagia tinggal di Sikakap ini adalah ada 1 masjid dan 2 mushalla sepanjang jalanan Sikakap ini.  Masjid Raya Al Furqon itu yang terbesar.  Hmm.. rasanya sangat bahagia.  Tentu saja awalnya aku berpikir akan sedikit tempat ibadah muslim disini dan tak terdengar adzan saat waktu solat tiba seperti yang terjadi kalo sedang liburan di Pulau Bali.  Namun yang kutemukan disini berbeda.  Bahkan sebelum adzan pun tak jarang yang dibunyikan dari masjid adalah murottal Alqur’an J sungguh amat-amat senang.  Alhamdulillah.  Allah Maha Besar.  Toleransi umat beragama disini juga nampaknya baik.  Dan beberapa warung makan juga dimiliki oleh ibu-ibu yang beragama islam sehingga aku merasa aman jika membeli makanan disitu.

Disini juga aku berkenalan dengan Ka Maria dan beberapa rekannya di UN Joint yang bertempat di Sekretariat Bersama Sikakap, Mentawai.  Itu adalah salah satu NGO dari United Nations yang bekerja untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa dan tsunami Mentawai tahun 2010 lalu.  Awal yang baik untuk menjalin kemitraan dengan NGO yang ada disini.  Apalagi kami diperbolehkan untuk main-main ke sekretariat itu untuk wifi-an. Hahaha.  Alhamdulillah XD

Satu lagi yang unik.  Bahwa bukan cuma angkot di Padang yang senantiasa ajeb-ajeb, tapi di Sikakap Tengah juga selalu berbunyi musik-musik khas Padang dan Medan.  Kalau musik-musik itu sudah berhenti, maka dilanjutkan oleh para remaja-remaji yang bernyanyi sambil bermain gitar :D tapi sekitar jam 9 keatas, suasana disini sudah mulai sepi.  Toko-toko di pasar juga sudah tutup.

Malam pertama di Sikakap, jujur saja, aku agak was-was.  Aku sengaja sudah memakai kaos lengan panjang dan celana training panjang dan menyiapkan jilbab di sebelahku.  Kalau-kalau ada apa-apa di malam itu.  Dua kali aku terbangun dan melihat jam di hape belum menunjukkan pukul 4 pagi.  Hmm.. kapanpun dimanapun, selama di Sikakap ini,  harus waspada akan bencana yang mungkin terjadi.  Sebenernya bukan cuma di Sikakap sih, mau dimanapun tempatnya di atas bumi ini juga bisa terjadi bencana.  Mungkin harus lebih berhati-hati disini karena Mentawai ini rawan gempa dan tsunami.

Walaupun nelpon dari sini agak putus-putus karena sinyal yang tidak begitu bagus, aku puas sudah mendengar suara orang tuaku via telepon.  Bahkan aku ini sedang tidak berada di Pulau Sumatera, tapi di Kepulauan Mentawai.  Sungguh dari kecil aku tidak pernah bermimpi akan menghabiskan waktu disini, di tempat yang jauh dari Pulau Jawa :D 


No comments:

Post a Comment

Post a Comment